Abah Terbaik

Aku masih merindu, merindu pelukannya dan dekapan hangatnya. Ah pantaskah aku yang sebesar ini memeluknya? Mendekapnya? Bahkan aku ingin di gendongnya kembali. Masa-masa itu aku rindukan. Aku rindu saat abah membangunkan ku di waktu subuh, saat aku begitu enggan untuk bangun. Digendongnya aku dari atas kasur dan dilemparnya aku ke sungai di belakang rumah. Ya aku ingat itu, aku kaget, belum terkumpul nyawaku, abah melemparku ke sungai. Aku mencoba berenang. Dan yang kulihat abah hanya tersenyum dan tertawa terbahak-bahak. Aku ingat itu. Bahagia sekali melihatku berusaha berenang. Dengan muka cemberut ku hampiri abah yang hanya tertawa.

“Abah ni, aa hampir tenggelam”

“Tapia aa gak tenggelam kan? Masih hidup kan?”

“Abahhh…” rengek ku.

“Udah, buruan mandi, biar bisa shalat subuh di langgar “

“Iya”

Cara abah itu, membuat ku ingat selalu. Ingat ketika subuh abah membangunkan ku. Maka hari-hari selanjutnya. Saat aku mulai malas bangun. Tangan abah sudah siap untuk menggendongku dari kasur. Maka bisa di pastikan, aku akan lekas bangun. Tak mau lagi aku di lempar ke sungai seperti yang lalu. Ambil handuk dan mulai mandi. Ah aku rindu masa kecil itu. Rindu saat itu.

Selepas shalat subuh di langgar. Maka abah pasti mengajakku berlari keliling desa. Menghirup udara segar. Subuh itu menyegarkan dan menyehatkan. Berlari dan lomba lari. Abah tersenyum dan selalu berkata dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Hingga sampai perbatasan desa abah mengajakku berlari, bahkan kadang saat lelahku dan tak sanggup lagi berlari. Digendongnya diriku. Di punggungnya ku rasakan ke hangatan tubuhnya. Hingga berhenti diwarunng Paman Asir,warung ini satu-satunya yang ada di desa yang buka di waktu pagi, menjual kue dan minuman.  Dan aku hapal betul pesanan abah yaitu The Hangat Manis dan Kue Untuk-untuk.

“Paman, seperti biasa yah” kata abah kepada Paman Asir

“Iya, Teh anget manis dan Teh anget tawar buat aa kan?” Paman menoleh ke aku sambil mengedipkan mata.

Aku hanya tersenyum memandangnya. Sambil menikmati kue Untuk-untuk yang enak ini.

“Iyah, entah ngikut siapakah aa ni jadi setiap kali minum yang manis pasti jadi pusing dianya” jawab abah.

“Biarin, aa kan sudah manis” sahut ku yang disambut dengan gelak tawa dari Paman Asir, dan semua orang di warung. Abah hanya mengelus kepala ku.

Di warung ini, di pagi ini, di sini aku lihat bagaimana abah begitu bahagia. Bertemu dengan teman-temannya di warung ini. Membicarakan semua hal tentang sawah, tentang padi, tentang ladang, tentang pemerintahan, tentang segala hal dengan teman-temannya. Aku, ya aku hanya memandangnya,mendengarkannya dan mencoba memahaminya walaupun sebenarnya aku tak mengerti. Memandang wajah-wajah para bapak-bapak, melihat cara mereka berbicara. Ah polosku, aku rindu itu.

Aku ingat. Sangat-sangat ingat. Saat teh hangat itu masih terasa panas Abah taruh teh itu di piring kecil, kau tiup-tiup air hangat itu atau saat kue untuk-untuk itu begitu panas kau pilah jadi kecil-kecil untukku. Ah itu menyenangkan. Aku selalu berpikir kau abah selalu ada disisi ku. Tak akan mampu diri ini tanpa mu. Kembali aku rindu saat itu. Aku rindu saat itu.

Sekarang. 16 tahun sudah berlalu. Aku masih putri kecilmu. Aku masih rindu saat itu. Sekarang saat aku duduk di meja kerjaku, aku merindukanmu. Aku membayangkan dirimu sedang bergulat dengan kain-kain dan jahitan itu. Dan aku disini masih bergulat dengan kerjaku. Maafkan aku, waktu yang lalu aku tersibukkan dengan kerjaku, tersibukkan hingga rindu tak ada untukmu. Namun, ada sesosok yang mengingatkan ku pada mu, sejak dia menyerahkan flasdisk yang didalamnya berisi rekaman nasehat-nasehat itu, ada satu  rar yang membuat aku tersentak yaitu Abi.rar, dan ku buka. Ku dengarkan rekaman itu. Luluh air mata ku. Aku rindu kamu. Aku ingin memelukmu dan mendekapmu. Dan kau tau bah, sejak itu saat aku merasa penat. Aku dengarkan kembali rekaman itu.

Abah. Yang terbaik untukmu

Saat lelahku, aku ingat senyummu

Saat keluhku, aku ingat bahagiamu

Saat sakitku, aku ingat harapanmu

Abah.

Yang terbaik untukmu

Untukmu, aku mampu penuhi maumu

InsyaAllah

 

 

P.Raya, 21’12’2015

Rindu Abah

PujjaSariPurnama

Hunyu_HusnAndalusia

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s