aku tau kamu (1)

karena aku tau kamu

maka aku ada untukmu

“Berceritalah”. katanya seolah dia tau apa mau ku. aku terdiam tak menjawab.

“Cerita saja, aku siap mendengarkan”.

Rasanya ini untuk pertama kalinya ada orang yang berkata seperti itu kepadaku.

aku masih diam. diam. diam

“Aku saudaramu. tak perlu kau simpan semua pedih itu”.

kata-katanya menamparkah. aku menatapnya tajam. tau dari mana dia? tau dari mana?

“Husna..” sapanya lagi

“Kau tutup semua dengan senyum ceria,sedang matamu meronta dalam kesedihan lara. aku lihat itu na, aku lihat..aku muak melihatmu berpura-pura kuat,aku muak dengan dirimu yang begitu.aku muak”

Terdiam aku di buatnya. Ku tatap dia dengan senyum mengembang dan berkata “Aku bahagia”

ditatapnya tajam diriku. senyumku ku kembangkan sambil meyakinkannya.

“Husna, ceritalah, tolong ceritalah… aku rindu husna yang dulu, husna yang meledak-ledak bagai kembang api, dan itu indah, ya kau nampak indah. sekarang yang ku lihat bukan itu tapi MAYAT HIDUP”

ku tatap tajam matanya, lalu ku alihkan pandangan ke arah lain

“Aku mayat hidup” lirihku

terdiam bersama.

sejenak ku rasakan desahan nafasmu yang memberat.

“Na, jika kau kuat sendiri menyimpannya. simpanlah semuanya. ku minta kau kembali menjadi husna yang dulu, yang cerewetmu dan celotehanmu membuatku pusing. janganlah bersikap buruk dikarena kesalahan yang lalu, atau dikarenakan kata-kata orang-orang yang menganggapmu buruk. aku yakin kau baik, sama seperti yang dulu. kau hanya terjerat oleh para bedebah itu. bedebah yang membuat senyummu menghilang. para bedebah yang semoga Allah membalas kejahatannya”

ku lihat wajahmu geram, kemarahan nampak dari itu

aku masih terdiam, memandangmu lekat-lekat.

“Bisakah aku jadi baik? sedang semua orang menganggapku buruk?”

tertunduk aku mengucapkan itu, ku tahan air mata ini. agar tak tumpah di hadapanmu

kau tersenyum. dan mengatakan

“Bisa, dan aku yakin kamu bisa, baiklah karena Allah bukan karena manusia. Jangan-jangan pernah kau anggap penilaian manusia. terserah mereka mau menilaimu bagaimana. cukup Allah”

aku terdiam.

dan kau tersenyum.

 

Palangkaraya. 14 Desember 2015
Sepenggel rasa untukmu yang percaya
Terimakasih telah mengikhlaskan waktumu untukku
Pujja Sari Purnama
Hunyu_HusnAndalusia
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s