Dek, Jangan sibuk dunia

Teringat saat itu, ya saat semester akhir sekitar semester 6. Dimana mungkin aku mulai jarang untuk sholat di mesjid salahudin, mesjid kampusku, kampus unpar. Jarang terlihat dan aku sadar aku mulai jarang mengunjungi mesjid itu atau sholat dimesjid itu. Bukan, bukan karena  ada masalah aku tak kesana, bukan itu tapi semester 6 mata kuliah ku sudah tak ada. Aku pun jarang ke gedung kuliah yang letaknya tepatnya dibelakang mesjid salahudin. Kadang aku hanya berkutat di perpusda, berkutat dan berdiskusi dengan dosen di prodi dan kerja. Yupz kerjaanku yang mulai padat.

Bukan, bukan aku tak rindu dengan mesjid itu. Ahh bagaimana aku tak rindu, di mesjid itu aku bertemu kakak-kakak yang luar biasa, dimesjid itu aku belajar mengaji, dimesjid itu aku menjalin ukhuwah, dimesjid itu aku merangkai cinta dengan ukhti-ukhti sholehah, yang diri pun kadang malu jika berada di antara mereka. Pantaskah? Aku berada dan berteman dengan mereka sedang aku penuh dosa dan lalai semata. Hemm dimesjid itu tangisan ku pecah, saat dunia membuatku lelah, dimesjid itu aku duduk lama mengejakan segudang tugas kampus, dimesjid itu aku bertemu dengan banyak wajah, dan dimesjid itu aku merasa tenang.

Kau tau teman, bagaimana marahnya aku saat itu. Aku lupa semester berapa mungkin semester 4 saat salah satu pohon besar di depan mesjid di tebang. Sedih dan kecewa. Atas alasan apa penjaga mesjid memotong pohon itu, apakah pohon itu mengganggu? Ku rasa tidak. Malah menambah sejuk dan asri. Dan yang tertinggal hanya satu pohon itu, tempatku biasa berteduh bersama buku-buku ku. Namun, apa daya seminggu yang lalu aku melewati mesjid salahudin tak ada lagi pohon itu. Hanya dapat menghela nafas panjang. Dan bertanya, kenapa di tebang? Apakah mereka yang menebang tidak berpikir bahwa untuk menumbukan pohon sebesar itu butuh waktu bertahun-tahun lamanya? Astagfirullah.

Ya, aku rindu mesjid itu hingga hari ini. Kau tau teman, aku ingin bercerita tentang kejadian itu. Ya kejadian tepat saat semester 6 saat aku mulai tak terlihat di mesjid kampus. Sederhana. Semester itu aku mulai mengajar sebagai gurun honor di sebuah SMA, aku mulai bekerja menjadi bagian di Kantor Pajak, aku mulai bekerja sebagai asisten akuntan di sebuah hotel dan aku mengajar privat. Karena aktivitas itu, membuatku jarang sholat dimesjid kampus. Biasanya di mesjid aqidah atau mesjid al husna atau mesjid apapun yang kulewati ketika mengejar jadwal aktivitasku.

Hari itu, ya di waktu dzuhur. Sebuah perasaan rindu merasuk untuk mampir ke mesjid salahudin. Selepas dari prodi aku mampir kesana dengan si biru. Mulai melangkah masuk teras mesjid sebuah suara memanggilku

“ Pujja, kemana aja?”

“Disini aja” jawabku dengan senyum

“Susah deh yang gak ada kuliah lagi” katanya, seorang akhwat teman satu angkatanku

“Alhamdulillah” sambil ku tarik tangannya berjalan masuk ke mesjid

Aku dan diapun mengambil air wudhu, dan kemudian masuk kedalam mesjid. Aah saat itu aku benar-benar rindu dengan mesjid ini. Ku pandangi setiap sudutnya. Ku ingat setiap kenangan yang ada. Ya aku rindu.

Selesai sholat, seperti biasa bersalaman dengan jamaah lainnya. Aku pun bertemu dengan teman-teman akhwat dan kakak-kakak akhwat. Kata yang sama terlontar dari mereka yaitu “Lama tak melihat ku”. Dan salaman terakhir dengan kakak itu mengangetkanku. Ya aku menyapanya dengan senyum bersalaman dengannya dan mulai mendekatkan pipiku ke pipi kakak tersebut (Kebiasaan bersalaman dan cipika cipiki diantara para jamaah). Apa yang terjadi membuat ku terdiam beberapa saat. Ya. Bisikan itu membuat ku runtuh. Kakak itu berkata lirih di telingaku

“Dek, jangan sibuk mengejar dunia” katanya dan kemudian tersenyum sambil melepas gengamannya pada tanganku, aku hanya terdiam dengan membalas senyumnya. Kemudian beliau berlalu dari hadapanku. Aku masih terdiam, diam dan diam. Hingga bulir-bulir itu berjatuhan. Ah aku amat lalai sangat sangat lalai. Mungkin kakak itu dari sekian orang yang mengenalku yang menganggapku seperti itu. Aku sibuk mengejar dunia?. Benarkah?.

Ya Allah … aku lalai, hingga tersibukkan pada dunia. Allah benarkah? Benarkah aku terlalu sibuk pada dunia? Sedang aku tau dunia hanya sebentar, hanya tempat singgah. Hanya tempat mencari bekal untuk kehidupan yang kekal.

Aku tersujud, jatuh dalam tangisan.

Ya aku lalai. Ampuni hamba ya Allah.

Ya Allah jangan jadikan hamba lalai kepadamu

Ya Allah jangan jadikan hamba sibuk dengan duniamu

Mungkin kakak itu benar, mungkin justifikasi kakak itu benar. Terimakasih kak sudah membuatku sadar. But aku sedang belajar membenarkan diri, aku sedang belajar menjadi husna, ya menjadi baik. Terimakasih kak untuk penilaiannya, itu cukup membuatku tersadar, bahwa mungkin banyak orang menilaiku sama seperti mu. Ini sebuah pembelajaran. Pemebelajaran yang selalu aku ingat. Tetapi kak, penilaian Allah yang paling utama bagiku. Aku tak peduli bagaimana menilaiku. Allah yang tau aku, Allah yang Maha Melihat aktivitasku. So, kita gak bisa menjustis orang itu baik atau orang itu buruk tanpa melihatnya dan mengenalnya serta mencoba memberikan kebaikan dan pembelajaran kepadanya.

Akhir selalu lebih baik dari pada Awal

Aku selalu ingat kata-kata itu dari seorang kakak. Dia berkata, seburuk apapun kamu dulu, seberdosa apapun kamu, sehina apapun kamu. Selama hari ini kamu bernafas, Allah kasih kesempatan kepadamu untuk menjadi baik, untuk berakhir baik. Pilihan ada ditanganmu berakhir dengan cara apa? Baik atau Buruk.

Palangkaraya, 1 November 2015

Dikamar penuh Mimpi

PujjaSariPurnama

Si Hunyu_ HusnAndalusia

Aku berharap seluruh aktivitasku menghantarkan aku dan keluargaku ke SurgaNya.Aamiin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s